Minggu, 21 Jul 2013 10:40 WIB  •  Dibaca: 3,737 kali
Pelatihan Pertama Penulisan Surat Tulak Tulak Mandailing
SURAT Tulak-Tulak Mandailing  adalah satu dari tujuh aksara yang ada di Indonesia dan dari 746 bahasa di Indonesia, salah satunya adalah Bahasa Mandailing yang memiliki tujuh ragam diksi, demikian Imran Nasution Ketua Pusat Informasi dan Dokumentasi Mandailing (PIDM) pada acara Pembukaan Pelatihan Penulisan Surat Tulak-Tulak Mandailing, yang diikuti oleh 36 orang guru SD/SLTP/SLTA dan masyarakat yang berminat. Surat Tulak Tulak menurut para ahli bahasa memiliki kemiripan dengan tulisan Palawa yang merupakan turunan tulisan Brahmi India Selatan. Seperti aksara Rejang, Bugis, Sanskerta, Kerinci, Sunda, dan Bali.
Kegiatan ini pertama kali dilaksanakan, dan para pesertanya menjadi Angkatan I, ini dilaksanakan PIDM bekerjasama dengan Yayasan Badan Warisan Sumatra (BWS), berlangsung pada 21-22 Juni 2013 lalu, di Sopo Sio Parsarimpunan Ni Tondi Mandailing (SSP), Saba Garabak, Desa Hutapungkut Jae, Kec. Kotanopan Mandailing Natal. Dan rencananya kegiatan yang sama akan diadakan di Medan untuk dua angkatan berikutnya sebelum akhir 2013. Bertindak sebagai tutor adalah Mhd. Bakhsan Parinduri gelar Jasinaloan.

Hadir pada acara tersebut Riza Pahlepi, Kabid Kebudayaan, Bahder S. Nasution Kasi Perizinan dan Pendapatan Didpora Budpar Kabupaten Mandailing Natal, Umar Maryadi Sekcam Kec. Kotanopan, Ahmad Hidayat, PLT KUPT Dinas Pendidikan Kec. Kotanopan serta Hamdan Lubis Tokoh Masyarakat Mandailing setempat.

Bahder S. Nasution dalam kata sambutannya, mengajak pencinta Mandailing melestarikan Surat Tulak-Tulak sebagai jati diri Mandailing. “Saya sangat terkesan, masih ada orang Mandailing di perantauan yang peduli dengan kebudayaan Mandailing dan akan kita perjuangkan agar program ini dapat berlanjut ke tahap selanjutnya”, menyahuti harapan Ketua PIDM agar Surat Tulak-Tulak Mandailing diusulkan menjadi muatan lokal di setiap sekolah se Kabupaten Mandailing Natal.

Sekcam Kotanopan Umar Maryadi, maupun Hamdan Lubis mewakili tokoh masyarakat Mandailing pun ikut menyatakan terima kasih mereka kepada PIDM yang berusaha melestarikan Surat Tulak-Tulak Mandailing, “Ini adalah jati diri Mandailing yang hampir terlupakan. Kami juga siap mendukung agar Surat Tulak-Tulak Mandailing dimasyarakatkan kembali”, ungkap Hamdan Lubis sebagai salah seorang guru Surat Tulak-Tulak Mandailing tahun enam puluhan di Hutapungkut, sangat menyayangkan orang-orang Mandailing kelahiran tahun 1977 ke atas sudah tidak mengenal lagi aksara ini.

Para undangan dan peserta yang hadir terkesan dengan upaya PIDM yang sungguh sungguh membangun Perpustakaan dan Museum Kebudayaan Mandailing, dikenal sebagai Sopo sio Parsarimpunan ni Tondi Mandailing (SSP) yang terus berkembang sejak diresmikan pada Juli 2010. Seperti diketahui  SSP saat ini memiliki koleksi 1.814 eks buku dan majalah, 72 foto bersejarah dan 66 buah peralatan tradisional masyarakat Mandailing. Kegiatan PIDM mengingatkan masyarakat kepada Willem Iskander, yang dalam salah satu syairnya di buku Si Bulus-bulus Si Rumbuk-rumbuk menuliskan suatu harapan besar pada generasi penerusnya, seperti dalam salah satu sajak “Tinggal maho jolo ale, Anta piga taon inda ngada huboto, Mula hu i da ho muse, ulang be sai maoto.” Artinya : Tinggallah kau dulu, Entah berapa tahun lagi aku tak tahu, Jika kita bertemu kembali, Janganlah kau masih tertinggal (bodoh).

“Ratusan buku Pustaha Mandailing bertuliskan Aksara Tulak-Tulak Mandailing saat ini berada di luar negeri. Sangat sayang apabila kita tidak dapat mempelajarinya”, kata Drs Bakhsan Parinduri gelar Jasinaloan, sebagai tutor pada acara sosialisasi ini, “karena itu mari kita pelajari aksaranya agar dapat  mengetahui isi Pustaha yang ditinggalkan Ompunta na parjolo sundut i”, lanjutnya.

Penulisan Surat Tulak Tulak zaman dulu digunakan dalam beberapa bidang seperti kesusasteraan (turi-turian), ilmu pengobatan, ilmu hitam, ilmu putih, nujum atau perbintangan dan sejarah atau tarombo. 

Masih bekerja sama dengan BWS, sebelum akhir 2013 PIDM juga akan mendokumentasikan semua kesenian Mandailing yang pernah ada, agar tetap dikenal dan dipelajari oleh generasi muda Mandailing maupun sebagai bagian dari warisan budaya bangsa Indonesia. (wina vahluvi)
 
Berita Art & Culture Lainnya
Minggu, 28 Jan 2018 09:04 WIB
Minggu, 28 Jan 2018 09:03 WIB
Minggu, 21 Jan 2018 08:05 WIB
Minggu, 21 Jan 2018 08:03 WIB
Sabtu, 13 Jan 2018 23:48 WIB
Sabtu, 13 Jan 2018 23:46 WIB
Minggu, 07 Jan 2018 09:05 WIB
Minggu, 07 Jan 2018 09:02 WIB
Minggu, 31 Des 2017 07:46 WIB
Minggu, 31 Des 2017 07:45 WIB